Sabtu, 28 Juni 2014

Si pemotong rumput

Foto by gardening.sheknows.com

Gemintang.com – Florida, sebuah pulau yang sangat indah, rupanya menyimpan kisah menarik didalamnya. Bukan cerita tentang cinta ataupun eksotisme yang dimilikinya, melainkan bagaimana seseorang bisa begitu dicintai oleh majikannya.
Alkisah seorang anak dengan langkahnya yang kecil, dengan cepat memasuki sebuah toko obat. Ia mencoba untuk mengangkat gagang telepon umum yang tersedia namun tak bisa karena ia masih terlalu pendek. Akhirnya ia pun menarik sebuah dus sebagai tempatnya berpijak, sehingga ia bisa mencapai gagang telepon dan mulai menekan tujuh digit nomor tujuan. Pemilik toko sempat dibuat penasaran, dan ia pun akhirnya mendengarkan isi percakapan yang sedang berlangsung.
Anak : “Hai Nona, dapatkah anda memberikan saya pekerjaan memotong rumput ?”
Wanita : “Saya sudah punya seseorang untuk memotong rumput saya”.
Anak : “Nona, saya akan memotong rumput dengan memberikan setengah harga dari orang yang memotong rumput anda sekarang”.
Wanita : “Saya sangat puas dengan orang yang saat ini memotong rumput saya”.
Sang anak dengan ketekunan yang lebih, ia pun kembali berkata, “Nona, saya bahkan akan menyapu pinggiran jalan trotoar anda, sehingga pada hari Minggu anda akan memiliki halaman yang paling cantik di seluruh pantai Florida”.
Wanita : “Tidak, terima kasih”.
Dengan senyuman di wajahnya, anak itu pun meletakkan gagang telepon. Setelah mendengar percakapan tersebut, sang pemilik toko pun seraya menghampiri dan berkata, “Nak, saya suka dengan sikap anda. Seorang seperti anda begitu bersemangat dan memiliki sifat yang positif. Bagaimana kalau anda bekerja disini saja?”
Anak : “Tidak, terima kasih”.
Pemilik toko : “Tapi saya sangat suka dengan anda, bahkan saya bisa memberi upah sesuai dengan keinginan anda”.
Anak : “Tidak Pak, terima kasih. Saya hanya memeriksa hasil kinerja saya pada pekerjaan yang sudah saya miliki. Sayalah yang bekerja untuk wanita di telepon tadi”.
Sahabatku yang manis senyumnya, setiap kali kita tidak lebih baik dari orang lain, kita akan menyalahkan orang lain untuk itu. Padahal semestinya, kita harus lihat kelemahan yang ada pada diri kita, barulah selanjutnya bekerja keras untuk membuang kelemahan itu.
Begitu halnya saat ada sesuatu yang menghalangi jalan kita, kita akan menganggapnya sebagai rival kita. Padahal sesungguhnya, rival terbesar bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Ada satu sisi keegoisan dalam setiap diri manusia, dan mampukah kita mengalahkannya dengan selalu mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi ? Jika ya, maka kita adalah yang terbaik.
Untuk bisa dicintai banyak orang dan dalam kisah ini adalah majikan, yang terpenting bukanlah siapa kita, melainkan dedikasi dan pelayanan terbaik yang bisa kita berikan untuknya. Dan kepercayaan adalah bayaran terbesar yang akan kita terima dari segala jerih payah yang telah kita lakukan.

0 komentar:

Posting Komentar