Senin, 20 Januari 2014

Menyikapi Kekerasan Dalam Hubungan




Gemintang.com – Siapa yang tidak bahagia saat mendapatkan kekasih yang sangat baik, juga penyabar? Baik pria ataupun wanita, tentu ingin memiliki pasangan yang bisa menyayangi juga menghargai mereka sebagaimana mestinya. Namun dibalik semua kebaikan, siapa sangka justru pasangan kamu seringkali menjadi pelaku kekerasan. 

KDRT yang kita tahu seringkali terjadi kepada mereka yang sudah berumah tangga. Tapi jangan salah, hubungan yang baru seumur jagung pun bisa jadi mengalaminya. Pelaku kekerasan dinilai berjiwa labil karena walau menyesal, nyatanya mereka tak hanya melakukannya sekali saja. Fakta menunjukkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak hanya terjadi pada orang miskin dan atau berpendidikan rendah. Berbagai golongan pun nyatanya bisa berpotensi menjadi pelaku dan bahkan menjadi korban didalamnya. Menyikapi hal ini, mari kita kenali terlebih dahulu hal-hal yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya tindak kekerasan

1. Posesif berlebihan
Merasa ingin dihargai, seorang pasangan seringkali menuntut pasangannya untuk lapor setiap kali dia akan pergi. Kemana, bersama siapa, dan pulang jam berapa, semua hal yang akan dilakukan pasangannya haruslah dengan seizin dia. Misalnya kamu, mungkin pernah suatu ketika meminta pengertiannya hingga dia mengizinkan. Namun perhatikan, apakah dia melakukan ancaman seperti, “Ya sudah, kamu boleh pergi, tapi jangan salahkan aku kalau ada apa-apa.” Ini memberi arti bahwa dia keberatan dan tidak menghargai keputusan kamu. Awalnya mungkin hanya ancaman, tapi buruknya adalah tentu tindak kekerasan. Untuk menghindarinya, akan lebih baik bila kamu didampingi oleh orang yang juga dikenalnya seperti orang tua ataupun teman dekat. Bisa jadi dia posesif karena kamu pun berlaku seenaknya dan tidak menghargai dia.

2. Seringkali mengulang kesalahan
Saat berbuat salah, tak jarang pasangan kamu menyesal dan lalu berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Berkata kasar, menampar, dan memukul, dia katakan bahwa itu bukanlah suatu kesengajaan. Sekarang, coba pikirkan secara logika. Apakah ada seseorang yang menampar tanpa dia menggerakkan sendiri tangannya untuk menampar? Dia bisa saja mengelak bahwa itu perbuatan khilaf. Tapi apakah mau bila selamanya kamu menjadi korban kekhilafannya? Segera mencari orang ketiga untuk menjadi saksi perilaku ini. Kamu tidak bisa bila hanya sekedar diam dan menanti kesadarannya untuk berhenti menjadikanmu korban. Pelaku kekerasan akan dengan mudah meminta maaf dan menghujani pasangannya dengan sejuta kata cinta untuk menyenangkan. Agar tidak terjebak, jadikanlah masa lalu sebagai cermin untuk bisa menentukan sikap.

3. Menjauhkanmu dari pergaulan
Setiap orang tentu punya teman dekat, sahabat yang mengerti dan juga menghargai. Tapi pasangan kamu, apakah dia tertarik untuk mengenal mereka dan tidak canggung saat harus pergi bersama? Jika dia justru tampak kesal dan berusaha menjauhkanmu dari pergaulan, artinya dia bukanlah orang yang mudah bersosialisasi. Ini, perlu diwaspadai. Seseorang yang hanya lebih suka dengan dirinya dan tidak menghiraukan orang lain, ia akan lebih mudah putus asa. Hatinya tidak peka dan dia akan melakukan sesuatu sesukanya. Tindakan menjauhkan kamu dari pergaulan adalah salah satu cara untuk memiliki kamu dalam arti yang tidak baik. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat dia pun bisa melakukan tindak kekerasan. Untuk menghindarinya, yakinkanlah dia agar bisa memberikan kepercayaan lebih terhadapmu. Tunjukkan padanya bahwa pertemanan yang kamu miliki dapat mendatangkan kebaikan.
Jika kamu menemukan sinyal yang tidak baik diatas atau bahkan justru sempat mengalaminya, pikirkanlah kembali perihal kelanjutan hubungan kamu. Kebanyakan orang yakin bahwa cinta dan pernikahan akan mengubah sikap seseorang, tetapi fakta terkadang menunjukkan sebaliknya. Jadi, jangan sampai cinta membutakan mata dan hati kamu untuk menemukan orang yang tepat.

0 komentar:

Posting Komentar